pisau tuhan
February 16th, 2008 by ikanberenangsepertinya Tuhan sedang menusukku dengan pisau berkarat
aku tak mati karenanya
tapi menderita karena tetanus
16 feb
sepertinya Tuhan sedang menusukku dengan pisau berkarat
aku tak mati karenanya
tapi menderita karena tetanus
16 feb
Pilih biji kemiri tua yang berasal dari pohon yang tua pula
Kupas kulit luarnya hingga tinggal cangkang yang keras
Siapkan tanah tempat persemaian. Tanah ini harus digemburkan terlebih dahulu
Lalu biji kemiri ditanam di tanah yang sudah disiapkan. Atur jaraknya. Tetapi jangan dibenamkan seluruhnya, sebagian saja
Tutup dengan seresah kering (bisa memakai daun pisang kering, daun bambu kering, atau jerami), jangan terlalu tebal
Bakar seresahnya
Cangkang kemiri akan retak karena panas dan akan mudah berkecambah
Di musim kemarau tentu saja penting untuk tidak lupa menyiram persemaian ini
(atas pertanyaan dari om agus, dulu sudah pernah dengar cerita tentang cara menanam kemiri, tapi tidak dengan detail. Jadi harus buka “kitab” terlebih dahulu. Kali ini kitabnya bernama Dulamin sang drunken master. Dulunya Pak Dulamin adalah mantri tanam perhutani. Meski drunken master kita berharap mantan mantri tanam ini masih punya ingatan yang cukup baik tentang menanam kemiri. Semoga Tuhan membalas kebaikannya berbagi kelestarian dengan kita semua (istilah om agus)) Februari 15th ,2008

Sepulang dari mengikuti uji publik dan pemaparan visi dan misi bakal calon bupati dari PKB, ada banyak hal yang saya pikirkan. Yang paling mengganggu adalah betapa para bakal calon bupati ini berusaha semampunya untuk memikat pemilih agar memilih mereka. Sepertinya menjadi bupati benar-benar menarik. Sepertinya itu bukan beban tapi anugrah. Meskipun program-program yang mereka tawarkan tidaklah terlalu menarik. Usang, tidak ada yang baru. Mereka mengulang-ulang perbaikan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan sebagai program utama. Tapi tidak konkrit dan tidak mengena, setidaknya di hati saya. Bukankah semua penebar janji juga mencanangkan hal itu-itu juga sebagai program yang ditawarkan di saat kampanye? dan siapa yang beristiqomah melakukannya? Sudah bosanlah kita dengan janji semacam itu.
Saya lalu menggambar kuda ini. Di lehernya dikalungkan wortel dan si kuda lalu berlari kencang memburu wortel, berharap bisa meraihnya. Sampai-sampai lupa menengok kiri kanan belakang. Tidak sempat melihat ada rumput atau makanan lain. Ia jadi capek dan lapar, karena wortelnya tidak terkejar. Begitu juga rakyat yang disodori program perbaikan ekonomi, pendidikan dan kesehatan murah (bahkan ada yang menjanjikan gratis pula…!). itu pula yang kemudian diharapkan rakyat. Tidak pernah terpikir akan hal-hal lain yang mungkin bisa jadi cara untuk memperbaiki kehidupan. Sementara wortelnya tidak juga terkejar.
Saya juga tidak pernah mendengar ada yang berupaya untuk mencerdaskan rakyat. karena selama ini yang dimaksud dengan pendidikan adalah pendidikan formal yang ujung-ujungnya hanya mencetak komoditi untuk menggerakkan mesin uang para kapitalis. Padahal seorang balon bupati mengatakan ia ingin menciptakan pemerintah yang amanah. pemerintah yang demokratis, di mana rakyat dan pemerintah bisa duduk bersama secara egaliter. Bisa saja duduk bersama, kalau disediakan kursi dan meja yang besar. Tapi kalau ngomong bersama, ya nanti dulu mas…
Satu balon lagi, yang sekarang sudah berpromosi dengan membuka internet gratis, mengatakan nanti akan membuka lebih banyak lagi internet gratis. Saya adalah pengunjung setia warnet. Tapi saya tidak sepakat kalau dengan gagasan ini diharapkan dapat mengatasi masalah yang ada. Saya tahu benar siapa jamaah internet di sini. Satu, siswa atau mahasiswa yang rajin. mereka ke warnet untuk mengerjakan tugas. Kedua, murid-murid yang bolos sekolah, ke warnet buat nonton film, download bokep atau browsing hal-hal terlarang, lalu mereka-mereka yang kesepian dan mencari teman lewat friendster atau chatting dengan yahoo messenger, atau wartawan yang di kantornya tidak mampu akses internet sehingga mereka harus ke warnet buat kirim berita. Lalu, ada juga orang-orang yang sekedar mau kirim email, atau, seperti saya, yang karena kurang kerjaan nongkrong di warnet untuk meng-update blog.
Di salah satu kecamatan di kabupaten ini pun ada satu tempat yang disebut telecenter. Isinya internet gratis. Waktu saya tanya untuk apa itu, ternyata dasar pemikirannya adalah kemiskinan itu disebabkan oleh kesenjangan informasi. Jadi untuk mendekatkan informasi kepada rakyat miskin dibangunlah telecenter. Nantinya rakyat bisa surfing untuk mencari informasi-informasi yang berguna di situ. Tapi waktu saya datang ke sana, tak nampak kegiatan serupa itu. Yang ada adalah remaja-remaja yang sedang asyik browsing mencari informasi tentang artis-artis kesayangan mereka. Sedangkan mereka-mereka yang disasar dari program ini malah bertanya dengan heran “internet itu apa to mbak?” dan setelah dijelaskan panjang kali lebar mereka bilang ooooo….. begitu. Tapi ya kan orang kecil tidak butuh itu. Untuk makan dan bertahan hidup mereka memang masih sangat percaya pada cangkul daripada pada benda asing bernama internet yang susah mereka bayangkan itu.
ah, saya jadi tidak berharap apa-apa. ganti bupati atau tidak ya sama saja kalau begini. mungkin biar hidup saya berubah jadi lebih cerah saya perlu punya kuda yang bisa saya ajak jalan-jalan…..
30 januari 2008
Bulan november kemarin, ketika pergi ke Jakarta, menggerutu dalam hati. Sepanjang jalan dan selama di Jakarta tidak banyak yang membuatku gembira. Justru jengkel. Pasalnya, Jakarta ini truly Indonesia. Semrawutnya, tidak nyamannya, semuanya.
Masih ditambah lagi sebelum berangkat itu menyaksikan dan mendengar orang-orang yang sibuk mau mendaftarkan diri jadi pegawai negeri sipil. Aku marah-marah. Karena sekian banyak orang ingin jadi PNS dengan tujuan sama. Agar hidupnya terjamin karena tiap bulan dibayar negara dan kalau sudah berhenti bekerja juga dapat pensiunan. Aku marah karena mereka sebagian besar tidak bercita-cita untuk masuk ke dalam sistem untuk memperbaiki keadaan negeri kita Indonesia raya tercinta. Egois. Aku marah karena aku tahu para pegawai negeri itu banyak yang tidak serius bekerja. Juga banyak yang tidak jelas apa pekerjaannya. Tidak efisien.
Tapi, waktu seminggu di Bali kemarin, ada yang membuatku terheran-heran dan terkaget-kaget. Di forum masyarakat sipil itu kan banyak sekali para aktivis dari NGO. NGO macam-macamlah. Yang anti tambang, anti nuklir, anti incinerator, yang berjuang untuk keadilan gender, memperjuangkan lingkungan hidup, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin aku memang termasuk jenis orang yang gumunan. Melihat rupa-rupa orang di sana aku kaget. Bagaimana tidak, sekarang para aktivis NGO ternyata seperti artis dan foto model saja layaknya. Penampilannya itu lho….
Mungkin aku juga terlalu ndeso. Mendengar obrolan mereka di kala break rasanya aneh. Apa yang sedang diomongkan. Tapi aku semakin yakin kalau mereka adalah fotomodel karena mereka sering banget foto!
Cuma karena itu semua aku jadi termenung-menung sepanjang acara. Malas ngomong karena tidak paham ujung pangkalnya acara ini. Aku lebih banyak memperhatikan mereka-mereka yang datang dari komunitas marjinal. Jenis rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Yang tersingkir karena di tanahnya dibangun kebun kelapa sawit raksasa seperti Pak Mad, yang menderita karena tumpukan sampah menggunung longsor ke desanya seperti orang-orang dari Bandung, yang rumahnya terendam lumpur, atau seperti pak irwansyah yang harus selalu banyak berdoa ketika akan berangkat melaut karena ikan-ikan sudah habis dikeruk trawl. Rakyat indonesia sesungguhnya? Ya. Karena ada kelas lain dalam forum itu. Para aktivis ini tidak kelihatan berposisi sama. Mereka sebangsa dewa penolong untuk para rakyat jelata tadi. Tidak nampak bahwa mereka sepenanggungan berada dalam negara yang mau hancur inilah pokoknya.
Aku jadi merangkai kesimpulan. Sepertinya ada gaya hidup baru sekarang ini, bekerja di NGO. Bekerja. Kalau gaya lama adalah bekerja untuk kemanusiaan, yang ini jalan hidup, bukan gaya hidup. The changing climate…..
Satu hal lagi, yang membuat aku nyengir, bukan tidak mungkin nantinya ada NGO yang anti NGO dengan kelakuan semacam itu. Bukan tidak mungkin.
Catatan dari Bali 3 – 10 Desember 2007
climate change
climate justice
global warmimg
carbon trading
REDD
itu sebagian dari banyak topik yang menghantui kami selama seminggu
di Nusa Dua
seandainya tidak ditabuh genderang UNFCCC mungkin isu ini juga tidak mengemuka
meski semua orang sudah merasakan dampaknya
meski sebagian orang juga sudah menyadari apa yang sedang terjadi
semoga saja saat perhelatan usai orang masih merasa tetap relevan membicarakannya
orang masih tetap terpangggil untuk melakukan composting
menghemat energi menanam pohon tidak boros fossil based fuel
dan masih tetap meneriaki para produsen emisi gas rumah kaca
siapa? indonesia?
ah masa…….
hare krishna, hare krishna, krishna, krishna, krishna, hare, hare
hare rama, hare rama, rama, rama, hare, hare
oh tuhan yang maha memikat dan maha membahagiakan,
mohon menyibukkan hamba dalam bhakti kepada-mu
itu adalah maha mantra dari Veda yang secara khusus diperuntukkan untuk menghadapi zaman pertengkaran dan kecemasan ini -zaman kali yuga-
yang membuatnya menarik, adalah komunitas hare krishna mengucapkan itu dalam nyanyian
tiga kata yang diulang-ulang
dinyanyikan dengan iringan musik yang membuat kita tertarik untuk ikut menari
mereka berkata mengucapkan mantra itu membuat kita bahagia
paling tidak saat itu kulihat wajah-wajah cerah berseri
menari dalam lingkaran
catatan dari bali 3 -10 desember 2007
masuk ke lokasi UNFCCC di Nusa Dua kita akan melalui pos pemeriksaan
sebuah pos yang dipenuhi polisi
di situ biasanya mobil diperiksa
id card kadang dilihat
pengamanan yang cukup seram
nah, sebelum sampai tempat itu
ada persimpangan
yang disisi kirinya adalah sudut sebuah taman
dengan sebuah papan larangan bertuliskan :
- dilarang berjalan di atas rumput
- dilarang menyabit rumput
- dilarang memetik bunga
- dilarang menembak burung
- dilarang mengambil janur
tepat di seberang jalan, dua polisi berdiri bersiaga
keduanya memegang senjata laras panjang
dalam posisi siap tembak
tentu bukan untuk menembak burung
ironis???
itulah indonesia…..
catatan dari bali, 3- 10 desember 2007
jancukkk……
kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya
dan tidak pernah mau mencoba untuk mengerti
atau setidaknya bertanya
SAKIT!!!!!