
Sepulang dari mengikuti uji publik dan pemaparan visi dan misi bakal calon bupati dari PKB, ada banyak hal yang saya pikirkan. Yang paling mengganggu adalah betapa para bakal calon bupati ini berusaha semampunya untuk memikat pemilih agar memilih mereka. Sepertinya menjadi bupati benar-benar menarik. Sepertinya itu bukan beban tapi anugrah. Meskipun program-program yang mereka tawarkan tidaklah terlalu menarik. Usang, tidak ada yang baru. Mereka mengulang-ulang perbaikan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan sebagai program utama. Tapi tidak konkrit dan tidak mengena, setidaknya di hati saya. Bukankah semua penebar janji juga mencanangkan hal itu-itu juga sebagai program yang ditawarkan di saat kampanye? dan siapa yang beristiqomah melakukannya? Sudah bosanlah kita dengan janji semacam itu.
Saya lalu menggambar kuda ini. Di lehernya dikalungkan wortel dan si kuda lalu berlari kencang memburu wortel, berharap bisa meraihnya. Sampai-sampai lupa menengok kiri kanan belakang. Tidak sempat melihat ada rumput atau makanan lain. Ia jadi capek dan lapar, karena wortelnya tidak terkejar. Begitu juga rakyat yang disodori program perbaikan ekonomi, pendidikan dan kesehatan murah (bahkan ada yang menjanjikan gratis pula…!). itu pula yang kemudian diharapkan rakyat. Tidak pernah terpikir akan hal-hal lain yang mungkin bisa jadi cara untuk memperbaiki kehidupan. Sementara wortelnya tidak juga terkejar.
Saya juga tidak pernah mendengar ada yang berupaya untuk mencerdaskan rakyat. karena selama ini yang dimaksud dengan pendidikan adalah pendidikan formal yang ujung-ujungnya hanya mencetak komoditi untuk menggerakkan mesin uang para kapitalis. Padahal seorang balon bupati mengatakan ia ingin menciptakan pemerintah yang amanah. pemerintah yang demokratis, di mana rakyat dan pemerintah bisa duduk bersama secara egaliter. Bisa saja duduk bersama, kalau disediakan kursi dan meja yang besar. Tapi kalau ngomong bersama, ya nanti dulu mas…
Satu balon lagi, yang sekarang sudah berpromosi dengan membuka internet gratis, mengatakan nanti akan membuka lebih banyak lagi internet gratis. Saya adalah pengunjung setia warnet. Tapi saya tidak sepakat kalau dengan gagasan ini diharapkan dapat mengatasi masalah yang ada. Saya tahu benar siapa jamaah internet di sini. Satu, siswa atau mahasiswa yang rajin. mereka ke warnet untuk mengerjakan tugas. Kedua, murid-murid yang bolos sekolah, ke warnet buat nonton film, download bokep atau browsing hal-hal terlarang, lalu mereka-mereka yang kesepian dan mencari teman lewat friendster atau chatting dengan yahoo messenger, atau wartawan yang di kantornya tidak mampu akses internet sehingga mereka harus ke warnet buat kirim berita. Lalu, ada juga orang-orang yang sekedar mau kirim email, atau, seperti saya, yang karena kurang kerjaan nongkrong di warnet untuk meng-update blog.
Di salah satu kecamatan di kabupaten ini pun ada satu tempat yang disebut telecenter. Isinya internet gratis. Waktu saya tanya untuk apa itu, ternyata dasar pemikirannya adalah kemiskinan itu disebabkan oleh kesenjangan informasi. Jadi untuk mendekatkan informasi kepada rakyat miskin dibangunlah telecenter. Nantinya rakyat bisa surfing untuk mencari informasi-informasi yang berguna di situ. Tapi waktu saya datang ke sana, tak nampak kegiatan serupa itu. Yang ada adalah remaja-remaja yang sedang asyik browsing mencari informasi tentang artis-artis kesayangan mereka. Sedangkan mereka-mereka yang disasar dari program ini malah bertanya dengan heran “internet itu apa to mbak?” dan setelah dijelaskan panjang kali lebar mereka bilang ooooo….. begitu. Tapi ya kan orang kecil tidak butuh itu. Untuk makan dan bertahan hidup mereka memang masih sangat percaya pada cangkul daripada pada benda asing bernama internet yang susah mereka bayangkan itu.
ah, saya jadi tidak berharap apa-apa. ganti bupati atau tidak ya sama saja kalau begini. mungkin biar hidup saya berubah jadi lebih cerah saya perlu punya kuda yang bisa saya ajak jalan-jalan…..
30 januari 2008