the changing climate
Bulan november kemarin, ketika pergi ke Jakarta, menggerutu dalam hati. Sepanjang jalan dan selama di Jakarta tidak banyak yang membuatku gembira. Justru jengkel. Pasalnya, Jakarta ini truly Indonesia. Semrawutnya, tidak nyamannya, semuanya.
Masih ditambah lagi sebelum berangkat itu menyaksikan dan mendengar orang-orang yang sibuk mau mendaftarkan diri jadi pegawai negeri sipil. Aku marah-marah. Karena sekian banyak orang ingin jadi PNS dengan tujuan sama. Agar hidupnya terjamin karena tiap bulan dibayar negara dan kalau sudah berhenti bekerja juga dapat pensiunan. Aku marah karena mereka sebagian besar tidak bercita-cita untuk masuk ke dalam sistem untuk memperbaiki keadaan negeri kita Indonesia raya tercinta. Egois. Aku marah karena aku tahu para pegawai negeri itu banyak yang tidak serius bekerja. Juga banyak yang tidak jelas apa pekerjaannya. Tidak efisien.
Tapi, waktu seminggu di Bali kemarin, ada yang membuatku terheran-heran dan terkaget-kaget. Di forum masyarakat sipil itu kan banyak sekali para aktivis dari NGO. NGO macam-macamlah. Yang anti tambang, anti nuklir, anti incinerator, yang berjuang untuk keadilan gender, memperjuangkan lingkungan hidup, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin aku memang termasuk jenis orang yang gumunan. Melihat rupa-rupa orang di sana aku kaget. Bagaimana tidak, sekarang para aktivis NGO ternyata seperti artis dan foto model saja layaknya. Penampilannya itu lho….
Mungkin aku juga terlalu ndeso. Mendengar obrolan mereka di kala break rasanya aneh. Apa yang sedang diomongkan. Tapi aku semakin yakin kalau mereka adalah fotomodel karena mereka sering banget foto!
Cuma karena itu semua aku jadi termenung-menung sepanjang acara. Malas ngomong karena tidak paham ujung pangkalnya acara ini. Aku lebih banyak memperhatikan mereka-mereka yang datang dari komunitas marjinal. Jenis rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Yang tersingkir karena di tanahnya dibangun kebun kelapa sawit raksasa seperti Pak Mad, yang menderita karena tumpukan sampah menggunung longsor ke desanya seperti orang-orang dari Bandung, yang rumahnya terendam lumpur, atau seperti pak irwansyah yang harus selalu banyak berdoa ketika akan berangkat melaut karena ikan-ikan sudah habis dikeruk trawl. Rakyat indonesia sesungguhnya? Ya. Karena ada kelas lain dalam forum itu. Para aktivis ini tidak kelihatan berposisi sama. Mereka sebangsa dewa penolong untuk para rakyat jelata tadi. Tidak nampak bahwa mereka sepenanggungan berada dalam negara yang mau hancur inilah pokoknya.
Aku jadi merangkai kesimpulan. Sepertinya ada gaya hidup baru sekarang ini, bekerja di NGO. Bekerja. Kalau gaya lama adalah bekerja untuk kemanusiaan, yang ini jalan hidup, bukan gaya hidup. The changing climate…..
Satu hal lagi, yang membuat aku nyengir, bukan tidak mungkin nantinya ada NGO yang anti NGO dengan kelakuan semacam itu. Bukan tidak mungkin.
Catatan dari Bali 3 – 10 Desember 2007