Saturday, December 31st, 2005
tetapi kini kerinduan berbahasa lain
mungkin sebuah alamat
tapi telah kulupa
mungkin sebuah janji
kau ucap dalam ekstase
sebuah rumah kau
bangun dengan liang
di bawah tanah
nyaman serupa sarang kelinci
dan hangat seperti dalam
pelukmu
di mana ia berada kini?
terselipkah dalam lembaran mimpimimpiku
atau telah hilang
dari berkas
berkas kukumpulkan di
map berserak
mengapa masih kucari bayangmu
diantara mereka yang lalu lalang
bukankah kau telah mati
seminggu yang lalu
kutikam kau dengan belati
lalu kukubur kau bersama korankoran tua
dan buku harian lama
di dekat kolam lele
mengapa masih kucium bau tubuhmu
larut bersama angin sore
basah sisa hujan
bukankah kau telah mati
kutikam kau dengan belati
karena ku tak tahu lagi
bagaimana mesti menghadapimu
karena ku tak tahu lagi
kata mana yang membuatmu mengerti
karena kepergianmu meninggalkan luka
luka sebesar kehadiranmu dulu
adalah luka
mengenangkan masa itu
ketika kutemukan langit malam di wajahmu
sesabit rembulan di senyummu
sepasang kejora di matamu
dan kulukis awan di sana
dengan bibirku
adalah luka
menyapa kembali bayangmu
di rumah sepi
di tepi jalan itu
adalah
luka ketika gerimis kembali menyentuhku
di jalanan berbatu
pernah kita tapaki dalam tawa
adalah luka
pada harum semerbak segelas kopi
kuseduh pagi hari
seolah panas mendidih airnya menyentuh kulitku
seperti pecah gelasnya menyentuh jariku
adalah luka
ku tak dapat menyembuhkannya
-desember seperti dulu
musim hujan datang
dan kau tak lagi
Di luar hujan
tak berhenti sejak semalam
aku membaca surat-suratmu
berapa panjang jalan kita lalui?
tiba-tiba aku takut kehilanganmu
takut kau pergi lebih dulu
aku membaca surat-suratmu
aku ingin menghambur ke pelukanmu
menyembunyikan tangisku
Di luar hujan
jangan pergi
jangan tinggalkan aku
di dunia yang sering tak sepaham denganku